Logika Sahaja



Logika, hilang sudah tiada
akal sehat pun pergi bersama sama
di dalam batok kepala otak juga tak lagi ada
dan dari mana dasarnya kau masih bergelar manusia!

Miris, sekolahmu di eropa
gelarmu lebih panjang daripada nama
bertahun tahun kau belajar demi meraih sarjana
tapi setelah gelar gelar itu kau raih sempurna, malah, ibumu sahaja tak lagi kau tahu siapa nama

Kau bawa ke mana itu logika
salah, salah dan bertahun tahun sudah, selalu sahaja melakukan kesalahan tapi masih
sahaja kau bela, di mana logikamu, takkah sehat lagi akalmu itu

Kasihankan akan orang tua yang telah bersusah payah menyekolahkanmu, kau
disekolahkan untuk menjadi manusia, tak malukah batinmu tak kala sesekali kau membatin
sendiri kerana batin itu pasti akan memberontak, kerana rasa yang ada di dalamnya itu
sangatlah suci

Atawa jika memang sebelumnya kau tak pernah membatin dengan kebenaran rasa yang
ada di dalam dirimu, maka mulai hari ini membatinlah, membatinlah sembari bercermin di
hadapan kebenaran

"Betapa bodoh dan dungunya diriku, aku orang sekolahan, emak, ayahku bersusah payah
mencari rezeki demi diriku, supaya aku bisa jadi orang, supaya aku bisa cerdas, supaya aku
bisa berguna bahagi nusa dan bangsa ini. Tapi kenapa aku bisa juga dibohongi, sedangkan
aku tahu apa yang disuarakannya itu adalah bohong belaka, semuanya bohong dan
bohong. Tuhan, bukakan kembali pintu hatiku, supaya aku mampu keluar dari belenggu ini.
Memang, betapa pun ia adalah seorang atasanku, tapi kebohongan yang nyata, telah,
selalu, bahkan sampai bertahun tahun sudah, ia selalu mempermainkan kami, ia selalu
membohongi kami. Mulai hari ini aku tak mahu lagi dibohongi olehnya, bahpun jabatanku
akan menjadi taruhannya. Tuhan, kembalikan akal sehatku yang selama ini telah lalai asyik
maksyuk bermain main di kolam, susu. Kembalikan akal itu kepadaku."

Berbatinlah demikian dan berdirilah di hadapan kebenaran, niscaya emak dan ayah akan
bangga, kerana mereka akanlah sangat sangat merasa puas hatinya, oleh kerana jerih
payahnya dahulu tak kala mencari rezeki agar, supaya bisa menyekolahkan anak anaknya,
tidaklah sia sia belaka.

Emak dan ayah pasti sangat sangat bangga bahpun mereka telah tenang di alam sana.
Maka berlogikalah kembali, mari menghidupkan kembali akal sehat yang sudah beberapa
tahun ini, mati.

S Isa Bluka Teubai, penyuka sastra.

Post a Comment

0 Comments